Lompat ke isi utama

Berita

Antonius Buka Pendidikan Pengawas Partisipatif, Tekankan Peran Anak Muda Mengawal Demokrasi

Ketua Bawaslu Kota Batam, Antonius Itoloha Gaho, secara resmi membuka kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026 di Kantor Bawaslu Kota Batam, Selasa (26/5/2026).

Ketua Bawaslu Kota Batam, Antonius Itoloha Gaho, secara resmi membuka kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026 di Kantor Bawaslu Kota Batam, Selasa (26/5/2026).

Batam - Ketua Bawaslu Kota Batam, Antonius Itoloha Gaho, menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mengawal demokrasi saat membuka kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026 di Kantor Bawaslu Kota Batam, Selasa (26/5/2026).

Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Antonius menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang telah dinyatakan lolos seleksi administrasi dan resmi menjadi bagian dari kader pengawas partisipatif Bawaslu Kota Batam. Menurutnya, keberadaan kader pengawas partisipatif menjadi bagian penting dalam memperkuat pengawasan pemilu berbasis masyarakat.

“Pengawasan pemilu bukan hanya menjadi tugas Bawaslu semata, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat,” ujar Antonius di hadapan peserta kegiatan.

Ia menjelaskan, Pendidikan Pengawas Partisipatif merupakan bentuk tanggung jawab Bawaslu dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengawasan demokrasi. Sebab, pengalaman pelaksanaan Pemilu dan Pilkada sebelumnya menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengawasan masih menjadi tantangan yang perlu diperkuat.

Karena itu, Antonius menilai keterlibatan anak muda menjadi harapan baru bagi demokrasi yang lebih sehat dan bermartabat. Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses demokrasi, tetapi harus hadir sebagai pengawas yang kritis, peduli, dan berani menyampaikan kebenaran.

“Kegiatan ini penting agar lahir generasi muda yang berani, kritis, dan peduli terhadap demokrasi,” katanya.

Dalam penyampaiannya, Antonius juga menegaskan bahwa peserta P2P sejatinya telah memiliki bekal awal sebelum mengikuti kegiatan tatap muka. Ia meyakini seluruh peserta telah mempelajari modul dan materi yang diberikan sebelumnya sehingga proses pendidikan dapat berjalan lebih mendalam.

Ia berharap para peserta tidak sekadar hadir untuk memenuhi formalitas kegiatan, melainkan benar-benar mampu menjadi kader pengawas partisipatif yang dapat “berfungsi dan bergerak” sebagaimana tema kegiatan yang diusung pada tahun ini.

Menurut Antonius, ada tiga hal penting yang harus dimiliki kader pengawas partisipatif, yakni memahami regulasi kepemiluan, memiliki sikap kritis terhadap proses demokrasi, dan berani bertindak apabila menemukan dugaan pelanggaran.

“Peserta harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam proses demokrasi, berani menyampaikan apabila ada proses yang tidak sesuai aturan, dan mampu memberikan informasi awal apabila menemukan dugaan pelanggaran,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Bawaslu memiliki fungsi pengawasan, pencegahan, dan penindakan. Dalam konteks itu, kader pengawas partisipatif diharapkan dapat membantu pada sisi pengawasan dan pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat terkait aturan pemilu dan potensi pelanggaran.

Selain itu, Antonius berharap para peserta mampu menjadi penggerak demokrasi di lingkungan masing-masing setelah kegiatan selesai. Ia ingin lahir komunitas-komunitas sadar demokrasi yang aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengawasan partisipatif.

Di akhir sambutannya, Antonius mengajak seluruh peserta menggelorakan jargon pengawasan Bawaslu sebagai bentuk semangat bersama menjaga demokrasi.

“Bersama Rakyat… Awasi Pemilu! Bersama Bawaslu… Tegakkan Keadilan Pemilu!”

Di tengah ruang yang dipenuhi semangat anak-anak muda itu, pembukaan kegiatan P2P bukan sekadar seremoni. Ia menjadi penanda bahwa demokrasi selalu membutuhkan mata yang awas, suara yang berani, dan generasi yang memilih untuk peduli.

Penulis, foto dan editor: Budiyanto