Bawaslu Batam Bawa “Bawaslu Goes to School” ke SMAN 8: Menyemai Pemilih Pemula Sejak Dini
|
Batam, Senin 4 Mei 2026 - Hujan turun pelan di Bengkong Sadai, seolah memberi jeda pada riuh kota. Di tengah cuaca yang basah, langkah Bawaslu Kota Batam tetap menuju satu tujuan yakni sekolah. Bukan sekadar kunjungan, melainkan sebuah niat untuk menanam sesuatu yang tak terlihat hari ini, tetapi akan tumbuh di masa depan - kesadaran berdemokrasi.
Audiensi ke SMA Negeri 8 Batam menjadi bagian dari program “Bawaslu Goes to School”, sebuah inisiatif yang dirancang untuk menyasar pemilih pemula melalui ruang-ruang pendidikan. Ketua Bawaslu Kota Batam, Antonius Itoloha Gaho, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi, tetapi langkah pencegahan yang berkelanjutan.
“Kami datang bukan hanya untuk menjelaskan mana yang boleh dan tidak. Kami ingin membangun kesadaran sejak dini,” ujarnya. Ia menambahkan, para siswa yang hari ini masih belajar akan menjadi pemilih pada Pemilu 2029. Karena itu, menurutnya, pendidikan demokrasi harus dimulai sebelum mereka benar-benar masuk ke bilik suara.
Antonius juga menekankan bahwa melalui program ini, Bawaslu ingin menghadirkan pendekatan yang berbeda tidak berhenti pada penyampaian informasi satu arah, tetapi membuka ruang partisipasi. Siswa diharapkan tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat dalam kegiatan pendidikan pengawasan partisipatif.
Koordinator Divisi SDM, Organisasi, Pendidikan dan Pelatihan Bawaslu Kota Batam, Ully Yushariyen Damanik, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal untuk membangun ekosistem partisipasi yang lebih luas. “Teknis pelaksanaannya akan kita diskusikan bersama. Yang penting, partisipasi itu sudah mulai terbentuk dan perlu kita persiapkan untuk pemilu ke depan,” jelasnya.
Kehadiran Bawaslu Kota Batam disambut baik oleh pihak sekolah. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Akmana Azia, dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Sandra Lusy, Akmana menyatakan dukungan terhadap program tersebut. ia menilai edukasi kepemiluan menjadi bagian penting dalam membentuk karakter siswa yang sadar akan hak dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Di balik jendela, hujan masih turun tidak deras, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi lebih hening. Di dalam ruangan, percakapan tentang demokrasi berlangsung pelan namun pasti. Tidak ada gegap gempita, tetapi ada sesuatu yang lebih penting yaitu kesadaran yang mulai tumbuh.
Karena demokrasi, pada akhirnya, tidak lahir dari keramaian bilik suara semata. Ia tumbuh dari ruang-ruang belajar dari siswa yang mulai memahami, dari dialog yang jujur, dan dari keberanian untuk terlibat. Dan di hari itu, di sebuah sekolah di Bengkong, Bawaslu Kota Batam tidak hanya datang. Tetapi mulai menanam.
Penulis, foto dan editor: Budiyanto