Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Kota Batam Gelar Halal Bihalal Milad ke-18 Bawaslu RI: Antara Syukur, Persaudaraan, dan Komitmen Demokrasi

Pemotongan tumpeng oleh Pimpinan Bawaslu Kota Batam menandai puncak kegiatan Halal Bihalal dalam rangka Peringatan Milad ke-18 Bawaslu Republik Indonesia, Jumat (10/4/2026)

Pemotongan tumpeng oleh Pimpinan Bawaslu Kota Batam menandai puncak kegiatan Halal Bihalal dalam rangka Peringatan Milad ke-18 Bawaslu Republik Indonesia, Jumat (10/4/2026).

Batam - Tumpeng itu berdiri tegak di tengah ruangan, kuning keemasan, seperti matahari kecil yang sengaja dihadirkan untuk menerangi perayaan. Sehari setelah Bawaslu Republik Indonesia genap berusia 18 tahun, Bawaslu Batam menggelar halal bihalal sekaligus peringatan milad lembaga, Jumat (10/4/2026). Ketua dan Anggota Bawaslu Kota Batam, dan jajaran sekretariat duduk bersama dalam satu ruangan, merayakan dua hal sekaligus, kehangatan Syawal yang belum sepenuhnya usai, dan usia lembaga yang kini resmi menginjakkan kaki di ambang kedewasaan. Tema yang dipilih bukan sekadar rangkaian kata “Mengukuhkan Demokrasi” ia adalah pernyataan sikap.

Sebelum tumpeng dipotong, ruangan itu lebih dulu diisi oleh Ustadz Jupriansyah, yang menyampaikan tausiah dengan kalimat yang pelan namun membekas. Ia mengingatkan bahwa ukhuwah, persaudaraan yang kerap diucapkan namun tak selalu dipahami, tidak berarti keseragaman. Ukhuwah, katanya, justru diuji dan dibuktikan di tengah perbedaan, kemampuan untuk tetap menjaga persaudaraan ketika pandangan tak selalu sama, ketika jalan yang ditempuh tidak selalu seiring. Di sebuah lembaga pengawas demokrasi, di mana perdebatan dan perbedaan pendapat adalah bagian dari napas kerja sehari-hari, pesan itu terasa bukan sekadar ceramah melainkan cermin.

Pemotongan tumpeng oleh pimpinan Bawaslu Kota Batam menjadi penanda resmi perayaan. Ada sesuatu yang selalu sungguh-sungguh dalam ritual memotong tumpeng, sebuah kesederhanaan yang justru kuat maknanya, bahwa pencapaian tidak harus dirayakan dengan megah untuk terasa nyata. Delapan belas tahun bukan perjalanan pendek. Ia diisi oleh pemilu demi pemilu, oleh laporan pelanggaran yang harus ditindak, oleh kepercayaan publik yang harus dijaga satu demi satu. Dan hari itu, di antara tawa dan jabat tangan yang hangat, semua perjalanan itu sejenak dirayakan bersama.

Halal bihalal ini bukan seremoni belaka. Ia adalah jeda yang disengaja, ruang di mana lembaga yang sehari-hari berhadapan dengan sengketa dan pengawasan, memilih untuk duduk bersama, saling memaafkan, dan mengingat bahwa di balik seragam dan jabatan, mereka adalah manusia yang mengemban amanah yang sama, menjaga demokrasi tetap jujur dan bermartabat. Di usia 18 tahun, Bawaslu tidak hanya merayakan eksistensinya, Bawaslu mengukuhkan komitmennya, bahwa perjalanan ini masih panjang, dan akan terus melangkah bersama.

Penulis, foto dan editor: Budiyanto