Lompat ke isi utama

Berita

Disiplin, Sejarah, dan Kesadaran Diri: Pagi yang Menegaskan Arah di Bawaslu Kota Batam

Jazuli, Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Batam, saat menjadi pembina apel pagi di Kantor Bawaslu Kota Batam, Senin (20/4/2026). Dalam amanatnya, ia menekankan pentingnya kedisiplinan, kebersamaan, serta refleksi nilai perjuangan Kartini sebagai inspirasi penguatan integritas dan kinerja pengawasan.

Jazuli, Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Batam, saat menjadi pembina apel pagi di Kantor Bawaslu Kota Batam, Senin (20/4/2026). Dalam amanatnya, ia menekankan pentingnya kedisiplinan, kebersamaan, serta refleksi nilai perjuangan Kartini sebagai inspirasi penguatan integritas dan kinerja pengawasan.

Pagi di halaman kantor Bawaslu Kota Batam tidak hanya dimulai dengan barisan yang tertib, tetapi juga dengan upaya merawat sesuatu yang tak kasatmata yakni kebiasaan. Senin, 20 April 2026, apel rutin kembali digelar sebuah ritual yang tampak sederhana, namun diam-diam menjadi fondasi bagi disiplin yang lebih dalam.

Di hadapan jajaran sekretariat, Jazuli, Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa, berdiri sebagai pembina apel. Ia tidak berbicara tentang hal yang rumit, melainkan tentang sesuatu yang sering dianggap sepele: pengulangan. Baginya, disiplin bukan perkara sekali jadi. Ia harus dilatih, diulang, dan dijalani sampai menjadi refleks sebuah respon yang hadir tanpa perlu diingatkan.

“Tidak ada kerja yang berdiri sendiri,” kira-kira begitu makna yang mengalir dari ucapannya. Ia menekankan pentingnya kebersamaan, saling menghargai, dan kesadaran bahwa setiap individu di dalam lembaga saling terhubung. Dalam fase non-tahapan pemilu yang cenderung sunyi, ia justru melihat ruang untuk memperkuat fondasi bukan untuk berdiam, tetapi untuk bersiap.

Di tengah suasana itu, ia mengingatkan tentang waktu yang tidak pernah benar-benar berhenti. Pemutakhiran data pemilih berkelanjutan dan dinamika partai politik tetap berjalan. Tidak ada sekat antar divisi, tidak ada ruang untuk berjalan sendiri. Semua harus bergerak dalam satu tarikan napas yang sama menjaga demokrasi tetap hidup, bahkan ketika panggungnya belum ramai.

Menariknya, Jazuli membawa ingatan ke arah yang lebih jauh ke sejarah. Ia menyebut Raden Ajeng Kartini, perempuan yang lahir dari keterbatasan, tetapi melahirkan gagasan yang melampaui zamannya. Dari ruang pingitan, Kartini menulis cahaya. Dari keterbatasan, ia membangun kemungkinan. Bagi Jazuli, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sumber energi untuk bergerak hari ini. “Jangan melupakan sejarah,” pesannya, menggaungkan kembali prinsip yang sering diucapkan, tetapi jarang direnungkan.

Namun, puncak dari arahannya justru mengarah ke dalam diri. Ia menyederhanakan kesuksesan dalam tiga kata: zero, opportunity, dan capability. Kosong sebagai keikhlasan, peluang sebagai kecermatan melihat kesempatan, dan kapasitas sebagai kesediaan untuk terus belajar. Tiga hal yang, jika dijalankan, akan membentuk manusia bukan hanya pekerja, tetapi manusia yang mampu memanusiakan manusia lain.

Apel pagi itu dihadiri Ketua Bawaslu Kota Batam, Antonius Itoloha Gaho, serta Kepala Sekretariat Esther Irianti Lombogia, bersama seluruh jajaran sekretariat. Tidak ada keputusan besar yang diumumkan. Tidak ada program baru yang diluncurkan.

Namun ada sesuatu yang lebih penting, pengingat bahwa lembaga tidak dibangun dari momen besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan sungguh-sungguh. Dan pagi itu, disiplin kembali diucapkan bukan sebagai slogan, tetapi sebagai jalan.

Penulis, foto dan editor: Budiyanto