Dari Mindset ke Karakter: Penguatan Revolusi Mental ASN di Bawaslu Kota Batam
|
Rabu, 4 Maret 2026, di kantor Bawaslu Kota Batam, diskusi mingguan Diskusi Asyik Bareng Bawaslu (Diserbu) Seri 6 digelar secara hybrid, sebagian duduk melingkar di ruangan, sebagian lain menyimak lewat layar Zoom. Tema yang diangkat terasa seperti cermin yang diletakkan tepat di hadapan para aparatur: “Revolusi Mental ASN Pengawas Pemilu: Mewujudkan Pengawas Pemilu yang Berintegritas dan Profesional”, sempena Bulan Suci Ramadan.
Pemantik diskusi, Jumadil Hakim, memulai dengan satu kata yang sering terdengar heroik namun jarang dibedah yakni revolusi. Bagi Jazuli, Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa, revolusi bukan sekadar perubahan yang riuh, melainkan perubahan yang sunyi, yang berangkat dari mental.
“Kalau kita berbicara revolusi, itu perubahan. Mental itu akhlak, perasaan, emosi,” ujarnya menanggapi materi. Ia menyinggung soal mindset, pola pikir yang menjadi hulu dari setiap tindakan. Apa yang dipikirkan, katanya, akan menjelma tindakan. Dan tindakan, pada akhirnya, membentuk nasib.
Jazuli mengutip satu angka yang membuat ruangan terdiam sejenak, 88 persen pikiran manusia adalah pikiran bawah sadar. Hanya 12 persen yang sadar. Pikiran sadar cepat letih; pikiran bawah sadar bekerja lewat pengulangan. Repetisi melahirkan karakter. Karakter lahir dari kebiasaan yang dibentuk keluarga, lingkungan, pergaulan.
Maka revolusi mental, menurutnya, bukan perkara slogan. Ia dimulai dari hal paling sederhana, menyapa. “Pelayanan tanpa komunikasi itu tidak jalan.” Salam, selamat pagi, sapaan kecil yang kerap dianggap sepele, justru menjadi fondasi pelayanan publik. Ramadan, katanya, adalah momentum mengoreksi diri, sebab perubahan tak pernah dimulai dari luar.
Ketua Bawaslu Kota Batam, Antonius Itoloha Gaho, menegaskan pesan itu dengan nada yang tenang. Perubahan, katanya, harus dimulai dari diri sendiri. Bukan karena takut pada atasan. Bukan pula karena tekanan. Tetapi karena kesadaran dan niat tulus.
“Kehadiran kita di sini bukan kebetulan,” ujarnya. Menjadi ASN atau penyelenggara pemilu adalah pilihan dan perjuangan. Maka yang tersisa adalah memastikan pilihan itu dijalankan dengan yang terbaik, mulai sekarang dan seterusnya.
Zainal Abidin, Koordinator Divisi Pencegahan, Parmas, dan Humas, membawa diskusi pada lanskap yang lebih luas. Ia mengurai satu teori klasik tentang tujuan negara menambah, mengembangkan, dan menjaga harta. Dalam praktiknya, ASN akan berhadapan dengan pemimpin dan kebijakan yang bergerak di antara tiga tujuan itu.
Zainal menyebut Niccolo Machiavelli dan gagasannya tentang kekuasaan. Bukan untuk mengajarkan kelicikan, melainkan sebagai pengingat bahwa realitas kekuasaan selalu kompleks. Karena itu, katanya, cinta pada negara adalah fondasi. Sistem boleh berubah, pemimpin boleh berganti, tetapi komitmen pada Republik tak boleh goyah. Hampir seluruh hidup warga, katanya, bertaut pada dokumen dan sistem negara yang diolah oleh tangan-tangan ASN.
Ully Yushariyen Damanik, Koordinator Divisi SDM, Organisasi, dan Diklat, berbicara tentang evaluasi dan disiplin. Ia menyinggung nilai BerAKHLAK – berorientasi, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, kolaboratif. Loyalitas, katanya, sudah tampak dari kerja-kerja lembur dan dedikasi. Namun adaptif terhadap teknologi dan konsistensi disiplin masih perlu dijaga.
“Salam, senyum, sapa,” ujarnya, bukan sekadar jargon. Ia bahkan menyelipkan nada, apakah sapaan kita setinggi sepuluh oktaf atau hanya lirih di C minor? Ruangan tertawa kecil, tetapi pesannya jelas, budaya kerja dibangun dari kebiasaan kecil yang konsisten, bukan dari pengawasan sesaat.
Syailendra Reza, Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi, melihatnya dari kacamata budaya organisasi. Mengutip pemikiran Edgar Schein, ia menyebut budaya sebagai kumpulan keyakinan dan norma yang sering kali tidak disadari, tetapi mengarahkan perilaku bersama.
Perubahan status dari non-ASN menjadi ASN, katanya, bukan sekadar perubahan administratif. Ia harus diikuti peningkatan value atau nilai diri. Melanjutkan pendidikan, meng-upgrade kapasitas, menyambungkan ilmu dengan pekerjaan itu bukan soal gelar, melainkan pertumbuhan. “Saya tidak bangga disebut doktor kalau value saya tidak bertambah,” katanya lugas.
Budaya organisasi Bawaslu Republik Indonesia di tingkat pusat tentu berbeda dengan di kabupaten/kota. Orang-orangnya berbeda, latarnya berbeda. Maka revolusi mental tak bisa seragam, ia harus dibaca dalam konteks masing-masing.
Diskusi dipandu oleh Elza Safitri dan dihadiri Ketua dan Anggota Bawaslu Kota Batam, Kepala Sekretariat, serta jajaran struktural, baik secara langsung maupun daring. Tidak ada tepuk tangan yang berlebihan di akhir acara. Hanya wajah-wajah yang tampak merenung.
Barangkali revolusi memang tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia lahir dari kesediaan menyapa lebih dulu. Dari keberanian mengubah diri sebelum menunjuk orang lain. Dari kesadaran bahwa integritas bukan hadiah jabatan, melainkan kebiasaan yang dilatih setiap hari.
Dan di bulan Ramadan ini, di sebuah kantor pengawas pemilu di Batam, revolusi mental dibicarakan bukan sebagai wacana besar, melainkan sebagai pekerjaan sunyi, yang harus dimulai hari ini.
Penulis dan editor: Budiyanto
Foto: Septiadi