Dari Pengawasan ke Pengabdian: Langkah Ramadhan Bawaslu Batam
|
Siang itu, matahari Ramadhan belum condong ke barat ketika rombongan Bawaslu Kota Batam tiba di Perumahan Bida Asri 1, Kelurahan Baloi Permai, Kecamatan Batam Kota. Rabu, 25 Februari 2026, menjadi hari ketika pengawasan tak hanya berbicara tentang regulasi, tetapi juga tentang empati.
Di Panti Asuhan Miftahul Ulum, sembako diserahkan. Tidak besar, tidak mewah. Namun di tangan anak-anak yang menerimanya, bantuan itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kebutuhan pokok: ia menjadi tanda bahwa negara, lewat lembaganya, hadir.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Ngabuburit Pengawasan dan Jumpa Berlian Bawaslu dengan tema “Bawaslu Kota Batam Berbagi: Menebar Kasih, Memperkuat Spirit Kelembagaan melalui Berbagi.”
Ketua Bawaslu Kota Batam, Antonius Itoloha Gaho, duduk di hadapan anak-anak panti. Suaranya tenang, tidak formal seperti di ruang sidang. Lebih seperti seorang kakak yang ingin memperkenalkan diri.
“Kami datang untuk bersilaturahmi dan menebar niat baik. Mungkin yang kami berikan kecil, tapi kami berharap bisa bermanfaat,” ujarnya.
Ia lalu menjelaskan siapa Bawaslu. Bahwa di balik baliho-baliho calon dan hiruk-pikuk pemilu, ada lembaga yang bertugas mengawasi prosesnya, mulai dari pendaftaran calon hingga penetapan pemimpin.
“Adik-adik nanti kalau sudah besar, kenali apa itu Bawaslu. Pahami bagaimana berdemokrasi dengan baik. Kantor kami terbuka,” katanya.
Di sudut ruangan sederhana itu, demokrasi diperkenalkan bukan lewat buku tebal, tetapi lewat percakapan hangat.
Pembina panti asuhan, Ibu Tasmuji, menyambut dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak menyangka rombongan Bawaslu datang membawa kebahagiaan sederhana bagi anak-anak asuhnya.
“Semoga ini menjadi amal jariah. Hanya Allah yang membalas,” ucapnya lirih.
Kegiatan tak berhenti pada penyerahan bantuan. Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Batam, Jazuli, memperkenalkan sesuatu yang mungkin terdengar asing bagi sebagian anak-anak: JDIH, Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum.
Jazuli menjelaskan bahwa di dalamnya terdapat produk-produk hukum, regulasi, dan undang-undang yang menjadi pegangan Bawaslu dalam bekerja. Ia membayangkan suatu hari nanti, mungkin ada di antara anak-anak itu yang melanjutkan studi hukum, membuka laman JDIH, dan membaca regulasi yang dulu hanya ia dengar sepintas di ruangan itu.
“Kalau nanti sudah 17 tahun, sudah punya hak pilih, adik-adik akan tahu bagaimana demokrasi bekerja. Dari pengawasan itulah lahir wali kota, DPRD, dan pemimpin lainnya,” jelasnya.
Brosur dibagikan. Anak-anak mendengarkan. Beberapa bertanya. Diskusi ringan pun mengalir tentang pemilu, tentang memilih, tentang masa depan.
Di bulan puasa, ketika manusia belajar menahan diri, Bawaslu Kota Batam memilih untuk mendekatkan diri. Tidak hanya menjaga logistik, tidak hanya mencatat formulir, tetapi juga menyentuh kehidupan.
Karena demokrasi bukan hanya soal bilik suara dan kotak suara. Ia juga tentang kepedulian. Tentang bagaimana lembaga negara hadir di ruang-ruang sederhana, menyapa anak-anak yang kelak akan menjadi pemilih, bahkan mungkin pemimpin.
Di antara sembako dan senyum anak-anak, pengawasan menemukan maknanya yang paling manusiawi.
Penulis, foto dan editor: Budiyanto