Lompat ke isi utama

Berita

Dari WFA ke Disiplin Baru: Catatan Pagi tentang Perubahan di Bawaslu Kota Batam

Pembina apel pagi, Ully Yushariyen Damanik, menyampaikan arahan terkait penyesuaian sistem kerja dan penguatan disiplin ASN di lingkungan Bawaslu Kota Batam, Senin (13/4/2026).

Pembina apel pagi, Ully Yushariyen Damanik, menyampaikan arahan terkait penyesuaian sistem kerja dan penguatan disiplin ASN di lingkungan Bawaslu Kota Batam, Senin (13/4/2026). 

Pagi di halaman kantor Bawaslu Kota Batam tidak hanya diisi barisan yang rapi, tetapi juga oleh kesadaran yang pelan-pelan ditegakkan. Senin, 13 April 2026, perubahan itu diumumkan bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan nada yang jernih dan sedikit tegas.

Ully Yushariyen Damanik, Koordinator Divisi SDM, Organisasi, Pendidikan dan Pelatihan, berdiri sebagai pembina apel pagi. Ia tidak sekadar menyampaikan aturan, tetapi menandai sebuah pergeseran dari kelonggaran menuju kedisiplinan yang lebih terukur. Sistem kerja work from anywhere yang sempat memberi ruang fleksibilitas, kini ditarik kembali ke batas yang lebih jelas work from home satu hari dalam sepekan, setiap Jumat. Selebihnya, kerja kembali ke titik asalnya hadir, nyata, dan terukur.

“Aturan tidak untuk dinegosiasikan,” kira-kira begitu makna yang mengendap. Bekerja dari rumah bukan berarti bekerja dari mana saja. Rumah menjadi batas. Disiplin menjadi pagar. Kelonggaran yang dulu terasa lapang kini dipersempit agar tanggung jawab tidak ikut menguap di antara ruang-ruang yang tak terdefinisi.

Namun, perubahan ini tidak berhenti pada soal tempat bekerja. Ia masuk lebih dalam, ke cara berpikir. Ully mengingatkan bahwa sistem tidak dibangun dari kebiasaan menunggu. Ia dibangun dari kesadaran mencatat, merencanakan, dan menuntaskan. Evaluasi tidak cukup hanya diucapkan, ia harus diterjemahkan menjadi daftar kerja, menjadi langkah konkret yang bisa diukur.

Ully menyebut gagasan kecil dari buku Atomic Habits karya James Clear tentang perubahan satu persen yang, jika konsisten, akan menjelma menjadi lompatan besar. Bagi lembaga, satu persen itu mungkin berupa disiplin hadir tepat waktu. Bagi individu, mungkin berupa keberanian memperbaiki cara kerja yang lama. Kecil, tetapi menentukan arah.

Di tengah suasana pasca tahapan pemilu yang cenderung lengang, peringatan itu terasa penting. Tahun 2027 sudah menunggu di kejauhan, membawa kembali hiruk-pikuk tahapan. Dan ketika itu datang, tidak ada lagi ruang untuk belajar dari nol. Semua harus sudah siap dari sistem, dari sumber daya, hingga dari kebiasaan kerja yang dibentuk hari ini.

Ully juga menyinggung hal yang kerap luput bahwa lembaga bukan hanya tentang struktur, tetapi tentang kesiapan manusia di dalamnya. Kekurangan SDM, pembagian waktu, hingga kebutuhan dukungan kerja bukan untuk dikeluhkan, tetapi untuk dipetakan sejak sekarang. Supaya ketika beban datang, lembaga tidak gagap.

Di apel pagi itu, pesan yang disampaikan sederhana namun tidak ringan berubah adalah kewajiban. Tidak semua orang nyaman dengan perubahan, tetapi semua orang akan dituntut olehnya.

Hadir dalam apel tersebut Ketua Antonius Itoloha Gaho dan Kepala Sekretariat Esther Irianti Lombogia, bersama seluruh jajaran sekretariat. Mereka menyaksikan sebuah pengingat yang mungkin terdengar biasa, tetapi sesungguhnya mendasar bahwa kinerja lembaga tidak lahir dari momen besar, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang.

Dan pagi itu, di bawah langit Batam yang belum sepenuhnya panas, satu hal menjadi jelas perubahan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang, ia hanya datang sebagai aturan baru, dan pilihan untuk patuh atau tertinggal.

Penulis, foto dan editor: Budiyanto