Lompat ke isi utama

Berita

Jazuli: Perempuan Pesisir Punya Peran Strategis dalam Pengawasan Pemilu Partisipatif

Jazuli, Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Batam, menyampaikan materi tentang pentingnya kontribusi perempuan pesisir dalam pengawasan pemilu partisipatif pada kegiatan Pendidikan Politik Perempuan Pesisir di Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang, Selasa (11/8/2026).

Jazuli, Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Batam, menyampaikan materi tentang pentingnya kontribusi perempuan pesisir dalam pengawasan pemilu partisipatif pada kegiatan Pendidikan Politik Perempuan Pesisir di Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang, Selasa (11/8/2026).

Batam - Pengawasan pemilu tidak hanya berlangsung di ruang-ruang resmi penyelenggara. Di rumah, di lingkungan tempat tinggal, hingga di tengah percakapan warga, pengawasan dapat tumbuh menjadi kepedulian bersama. Hal itu disampaikan Anggota Bawaslu Kota Batam sekaligus Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa, Jazuli, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pendidikan Politik Perempuan Pesisir di Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang, Kota Batam, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) tersebut mengangkat tema “Suara dari Bibir Pantai: Kontribusi Perempuan Pesisir dalam Pengawasan Pemilu Partisipatif.” Kegiatan diikuti oleh perempuan di Kelurahan Sijantung dan menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai politik, kepemiluan, serta peran warga dalam mengawasi jalannya setiap tahapan pemilu.

Dalam pemaparannya, Jazuli menegaskan bahwa pengawasan pemilu partisipatif merupakan bentuk keterlibatan masyarakat di luar penyelenggara resmi untuk mengamati, mencermati, dan melaporkan setiap tahapan pemilu agar berlangsung sesuai dengan ketentuan.

Menurut Jazuli, masyarakat tidak semestinya hanya hadir sebagai pemilih ketika hari pencoblosan tiba. Masyarakat juga memiliki ruang untuk menjadi mata dan telinga dalam pengawasan pemilu, terutama dengan mengenali potensi pelanggaran sejak dini dan menyampaikan informasi kepada pengawas pemilu.

“Perempuan pesisir memiliki posisi yang strategis karena memiliki kedekatan dengan keluarga dan lingkungan sosialnya,” ujar Jazuli dalam pemaparannya.

Kedekatan tersebut, lanjutnya, dapat menjadi kekuatan dalam mendeteksi berbagai persoalan yang muncul di lingkungan masyarakat. Informasi yang beredar dari rumah ke rumah dan dari satu komunitas ke komunitas lainnya dapat menjadi bagian penting dalam membangun kewaspadaan bersama terhadap potensi pelanggaran pemilu.

Jazuli juga mendorong perempuan pesisir untuk mengambil peran secara konkret. Tidak hanya dengan menggunakan hak pilih, tetapi juga dengan mengikuti perkembangan tahapan pemilu, menyebarkan informasi kepemiluan yang benar, mengikuti forum pengawasan partisipatif, serta melaporkan dugaan pelanggaran melalui kanal resmi Bawaslu.

Sejumlah potensi pelanggaran juga perlu menjadi perhatian masyarakat, di antaranya politik uang, kampanye yang tidak sesuai ketentuan, ketidaknetralan aparat, hoaks dan disinformasi, hingga intimidasi terhadap pemilih.

Dalam konteks pengawasan, Jazuli mengingatkan agar masyarakat tidak berhenti pada dugaan. Setiap informasi mengenai dugaan pelanggaran perlu dicermati dan, jika memungkinkan, disertai bukti untuk kemudian disampaikan kepada pengawas pemilu sesuai mekanisme yang berlaku.

Bagi Bawaslu, pengawasan partisipatif bukan sekadar memperbanyak mata yang melihat. Ia adalah upaya menumbuhkan kesadaran bahwa pemilu merupakan milik bersama. Karena itu, keterlibatan perempuan pesisir menjadi bagian penting dalam memperkuat pengawasan dari lingkungan paling dekat.

Melalui kegiatan tersebut, Bawaslu Kota Batam berharap perempuan di Kelurahan Sijantung dapat mengambil posisi lebih aktif dalam kehidupan demokrasi, bukan sekadar sebagai pemilih, tetapi sebagai pemilih cerdas sekaligus bagian dari pengawasan pemilu partisipatif.

Dari bibir pantai, suara itu mungkin terdengar sederhana. Namun ketika kepedulian tumbuh dan keberanian untuk mengawasi menjadi kebiasaan, suara tersebut dapat menjadi bagian dari penjaga demokrasi.

Penulis dan foto: Rezika 

Editor: Budiyanto