Lompat ke isi utama

Berita

Reza: Panca Prasetya Korpri Bukan Sekadar Ikrar, tetapi Pedoman dalam Pengabdian

Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi Bawaslu Kota Batam, Syailendra Reza Irwansyah Rezeki, saat menjadi pembina apel pagi di Kantor Bawaslu Kota Batam, Senin (31/8/2026).

Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi Bawaslu Kota Batam, Syailendra Reza Irwansyah Rezeki, saat menjadi pembina apel pagi di Kantor Bawaslu Kota Batam, Senin (31/8/2026).

Batam - Panca Prasetya Korpri bukan sekadar rangkaian kalimat yang dibacakan setiap Senin. Di dalamnya terdapat janji tentang kejujuran, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, hingga kemauan untuk terus belajar. Pesan tersebut disampaikan Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data dan Informasi Bawaslu Kota Batam, Syailendra Reza Irwansyah Rezeki, saat menjadi pembina apel pagi di Kantor Bawaslu Kota Batam, Senin (31/8/2026).

Reza mengajak jajaran Bawaslu Kota Batam untuk tidak berhenti pada rutinitas membacakan Panca Prasetya Korpri setiap awal pekan. Menurutnya, lima ikrar tersebut memiliki makna yang luas dan perlu diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari sebagai aparatur negara.

“Kalau diteliti untuk dikaji lebih dalam, itu sungguh lebar, sungguh luas. Apalagi bagaimana menerapkannya, otomatis teman-teman semua yang lebih tahu,” ujar Reza.

Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Panca Prasetya Korpri justru menjadi pengingat yang terus berulang. Setiap Senin, ikrar tersebut kembali diucapkan agar nilai yang terkandung di dalamnya tidak hilang di antara rutinitas pekerjaan.

Ia mencontohkan salah satu nilai yang berkaitan dengan kejujuran dan kedisiplinan. Hal sederhana seperti menyampaikan izin ketika tidak dapat hadir bekerja, menurutnya, merupakan bagian kecil dari bagaimana ikrar tersebut diterapkan dalam kehidupan sebagai aparatur.

“Sebetulnya lebih rigid daripada janji-janji yang harus kita lakukan. Panca Prasetya Korpri setiap Senin kita kemukakan, artinya setiap Senin itu berulang lagi yang kita ingat,” katanya.

Menjadi “Insan Kamil” dalam Pengabdian

Reza memaknai Panca Prasetya Korpri sebagai jalan untuk membentuk aparatur yang utuh dalam menjalankan pengabdian. Ia menggunakan istilah “insan kamil” sebagai gambaran tentang pribadi yang tidak hanya mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungan dan sesama.

Nilai tersebut, kata Reza, tidak berhenti pada hubungan antara aparatur dengan negara. Ia juga tercermin dalam cara pegawai memperlakukan rekan kerja.

“Sesama temannya saja harus dijaga. Kalau diartikan itu otomatis harus ada kepedulian, sehingga ke depannya bisa lebih maksimal lagi,” tuturnya.

Ia menilai kepedulian dan hubungan baik antarsesama jajaran menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan kerja yang sehat. Pekerjaan lembaga tidak berdiri di atas satu orang, melainkan bergerak melalui kerja bersama.

Pendidikan sebagai Bagian dari Pengabdian

Dalam amanatnya, Reza juga menyinggung pentingnya pendidikan dan peningkatan kapasitas bagi jajaran Bawaslu Kota Batam.

Ia melihat sejumlah kepala subbagian mulai mengikuti kegiatan bimbingan teknis. Menurutnya, proses tersebut merupakan bagian dari pengembangan kapasitas yang perlu terus dijaga, terutama dalam masa kerja yang relatif tidak sepadat periode tahapan pemilu.

Reza berharap peningkatan kapasitas tersebut dapat memperkuat kemampuan jajaran dalam menjalankan tugas masing-masing sekaligus memberikan dampak terhadap kinerja lembaga secara keseluruhan.

Baginya, pengabdian tidak hanya diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang selesai. Ada hal-hal yang lebih senyap tetapi menentukan, bagaimana seorang pegawai menjaga komitmen, memperlakukan rekan kerja, terus belajar, dan memahami bahwa setiap tugas adalah bagian dari amanah negara.

Apel pagi tersebut dihadiri Kepala Sekretariat Bawaslu Kota Batam Esther Irianti Lombogia serta seluruh jajaran sekretariat Bawaslu Kota Batam.

Senin pun kembali menjadi ruang untuk mengingat. Lima janji dibacakan, lalu pekerjaan dimulai. Sebab ikrar yang baik tidak seharusnya berhenti sebagai suara yang mengudara di lapangan apel, ia harus turun menjadi tindakan, tumbuh menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi watak dalam pengabdian.

Penulis dan foto: Budiyanto