Logistik, Ombak, dan Hak Pilih: Catatan Pengawasan di Diserbu Seri 5
|
Di bulan Ramadhan, ketika siang terasa lebih sunyi dan waktu berjalan perlahan menuju berbuka, Bawaslu Kota Batam menggelar Diskusi Asyik Bareng Bawaslu (DISERBU) Seri Ke-5, Rabu (25/2/2026). Diskusi yang biasanya riuh oleh istilah regulasi dan angka-angka itu kali ini menyentuh sesuatu yang lebih sunyi, logistik pemilu, barang yang tampak biasa, tetapi menentukan hak suara warga negara.
Diskusi yang diselenggarakan secara khusus menyesuaikan momentum Ngabuburit Pengawasan ini mengangkat tema pengawasan logistik Pemilu dan Pilkada, sebuah tahapan yang kerap terlihat teknis, namun sejatinya menentukan hak konstitusional warga negara.
Septiadi, sebagai pemantik diskusi, mengingatkan bahwa logistik pemilu bukan sekadar kardus berisi surat suara. Ia adalah instrumen konstitusional. Jika ia terlambat, tertukar, rusak, atau salah hitung, maka yang terganggu bukan sekadar administrasi, melainkan hak pilih rakyat.
Ia merujuk pada landasan regulasi, mulai dari Perbawaslu Nomor 12 Tahun 2023 dan Nomor 11 Tahun 2024, hingga PKPU Nomor 16 Tahun 2023 dan Nomor 12 Tahun 2024. Lima prinsip ditegaskan, tepat jumlah, tepat jenis, tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat prosedur. Lima kata yang tampak sederhana, tetapi dalam praktiknya menuntut kewaspadaan 24 jam.
Koordinator Divisi SDM, Organisasi dan Diklat Bawaslu Kota Batam, Ully Yushariyen Damanik, menanggapi materi itu dengan pengalaman yang masih hangat di ingatan. Ia mengisahkan bagaimana pengawasan melekat dilakukan saat logistik tiba di pelabuhan, tanpa pengawalan awal yang memadai.
“Kami mengambil langkah melekat 24 jam, berkoordinasi dengan kepolisian, melibatkan Panwascam dan PKD. Karena saat itu ada celah koordinasi,” ujarnya.
Bagi Ully, logistik adalah benda yang rawan tertukar antara TPS satu dan TPS lain, antara dapil yang berbeda. Kesalahan kecil dapat berujung besar. Ia juga menyoroti pentingnya sistem identifikasi di gudang, pengawasan saat sortir dan lipat, serta pembatasan akses masuk. Dari pengalaman sebelumnya, setelah Bawaslu mengeluarkan surat pencegahan, barulah mekanisme tanda pengenal dan pemeriksaan barang diterapkan lebih ketat.
Namun pengawasan tak berhenti di darat. Di Batam, ombak dan angin menjadi variabel yang tak bisa diabaikan. Distribusi ke wilayah hinterland, pulau-pulau kecil menghadirkan tantangan tersendiri. Cuaca ekstrem, gelombang tinggi, hingga risiko keterlambatan menjadi bagian dari narasi pengawasan.
“Kita harus memastikan bukan hanya jumlahnya tepat, tetapi sampai dengan selamat,” kata Ully.
Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kota Batam, Jazuli, menambahkan catatan evaluasi yang tak kalah penting. Ia mengingat kembali kejadian kesalahan surat suara di Kecamatan lubuk baja yang berujung pada pemungutan suara lanjutan di delapan TPS.
“Kesalahan masuk surat suara itu bukan hanya soal teknis. Ia berdampak pada biaya, waktu, dan kepercayaan publik,” ujarnya.
Menurut Jazuli, sinkronisasi antara data daftar pemilih tetap (DPT) dan jumlah surat suara menjadi kunci. Ketika input dan output tak seimbang, di situlah pengawasan harus hadir lebih awal, bukan setelah masalah membesar.
Diskusi yang dipandu Mira Andelina itu berlangsung dengan kesadaran kolektif, bahwa pengawasan logistik bukan sekadar rutinitas tahapan, melainkan penjagaan hak konstitusional. Pengawasan dilakukan sejak pengadaan, penyimpanan, sortir-lipat, hingga distribusi ke TPS. Termasuk memastikan kualitas surat suara, mana yang masih layak, mana yang harus ditindaklanjuti.
Sebagai inovasi, Bawaslu Kota Batam menerapkan sistem pengawasan shift penuh di gudang logistik yang melibatan jajaran pengawas di kecamatan dan kelurahan. Strategi mitigasi juga disiapkan untuk wilayah kepulauan, termasuk distribusi lebih awal dan perlindungan fisik kotak suara.
Di ruang diskusi itu, logistik tak lagi dipandang sebagai benda mati. Ia adalah simbol kepercayaan publik. Ia adalah suara yang belum dicoblos, tetapi sudah harus dijaga.
Karena demokrasi tidak hanya ditentukan di bilik suara. Ia dimulai dari gudang, dari pelabuhan, dari tangan-tangan yang melipat kertas dengan cermat. Dan dari mata-mata pengawas yang tak boleh lelah, bahkan saat senja Ramadhan menunggu azan berbuka.
Penulis, foto dan editor: Budiyanto