Bawaslu Batam Ajak Pelajar Memahami Politik dari Kehidupan Sehari-hari
|
Batam - Politik tidak selalu hadir dalam bilik suara, poster calon, atau perdebatan di panggung kampanye. Pengaruh politik justru dapat dikenali dari lingkungan terdekat seperti keluarga, sekolah, pertemanan, hingga cara seseorang mengambil keputusan. Pesan itu disampaikan Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas Bawaslu Kota Batam, Zainal Abidin, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pendidikan Politik Pemilih Pemula bagi Kalangan Pelajar di MA dan Ulya Darul Falah Batam, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Batam tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal politik dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Bagi pemilih pemula, memahami politik tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa yang akan dipilih, tetapi juga memahami bagaimana pengaruh, tanggung jawab, dan nilai-nilai membentuk pilihan seseorang.
Dalam pemaparannya, Zainal menjelaskan bahwa pengaruh merupakan bagian penting dalam kehidupan politik. Pengaruh seorang pemimpin, misalnya, dapat menjalar kepada orang-orang di sekitarnya dan kemudian berkembang menjadi kebiasaan bersama. Hal serupa dapat ditemukan di lingkungan sekolah maupun keluarga, ketika sikap seseorang menjadi contoh yang diikuti orang lain.
Karena itu, politik tidak semata-mata berkaitan dengan perebutan kekuasaan. Politik juga menyentuh cara manusia berinteraksi, menentukan sikap, dan memengaruhi lingkungan. Bagi pelajar, pemahaman ini penting agar mereka tidak tumbuh sebagai warga yang hanya mengenal politik ketika pemilihan umum tiba.
Zainal juga mengajak pelajar melihat bagaimana nilai dan pengaruh tercermin dalam tindakan sederhana. Ketika seseorang menemukan telepon genggam milik orang lain yang tertinggal di kelas, misalnya, keputusan untuk mengembalikannya menunjukkan bagaimana nilai kejujuran bekerja dalam kehidupan nyata. Tindakan itu mungkin tampak kecil, tetapi mencerminkan karakter yang dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya.
Di lingkungan keluarga, pengaruh juga dapat muncul melalui penghargaan maupun sanksi. Cara orang tua memberikan kepercayaan, menetapkan batasan, dan merespons perilaku anak ikut membentuk sikap. Dari contoh-contoh tersebut, pelajar diajak memahami bahwa pengaruh tidak selalu hadir dalam bentuk perintah langsung; terkadang, ia bekerja melalui teladan dan kebiasaan yang terus berulang.
Bagi pemilih pemula, mengenali pengaruh berarti belajar berpikir kritis. Tidak semua ajakan harus diikuti, tidak semua pendapat harus diterima begitu saja, dan tidak semua informasi yang beredar layak dipercaya. Pelajar perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, memahami konteks, serta mempertimbangkan dampak sebelum mengambil keputusan, termasuk ketika menerima informasi politik di media sosial.
Dalam konteks pengawasan pemilu, pemahaman politik juga perlu disertai kesadaran mengenai aturan dan etika. Zainal menyinggung perbedaan antara pelanggaran terhadap ketentuan tertulis dan persoalan etika yang dapat muncul dalam hubungan antarmanusia. Keduanya perlu dipahami secara cermat karena tidak setiap perilaku yang dianggap tidak pantas otomatis merupakan pelanggaran hukum; penilaiannya bergantung pada aturan, konteks, dan mekanisme yang berlaku.
Pendidikan politik bagi pelajar menjadi penting karena pilihan masyarakat tidak lahir dalam ruang kosong. Pilihan itu dibentuk oleh pengetahuan, pengalaman, lingkungan, dan informasi yang diterima setiap hari. Dengan bekal pemahaman yang memadai, pemilih pemula diharapkan mampu mengenali pengaruh di sekitarnya, menimbang informasi secara mandiri, dan berpartisipasi dalam demokrasi dengan tanggung jawab.
Pendidikan politik bukan sekadar persiapan menuju hari pemungutan suara. Pendidikan politik merupakan proses membangun kesadaran agar generasi muda tidak hanya menjadi sasaran pengaruh, tetapi juga mampu menentukan sikap berdasarkan pengetahuan, kejujuran, dan pertimbangan yang matang. Sebab, demokrasi tidak hanya ditentukan oleh suara yang masuk ke kotak suara, tetapi juga oleh cara warga berpikir dan bertindak jauh sebelum hari pemilihan tiba.
Penulis, foto dan editor: Budiyanto