Lompat ke isi utama

Berita

Sumpah Pemuda ke-98, Ketua Bawaslu Batam Tekankan Integritas, Kegigihan, dan Empati

Ketua Bawaslu Batam, Antonius menekankan bahwa patriotisme tidak hanya diwujudkan melalui kecintaan kepada tanah air, tetapi juga melalui tanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai aparatur pengawas pemilu saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di lingkungan Bawaslu Kota Batam, Rabu (28/10/2026).

Ketua Bawaslu Batam, Antonius menekankan bahwa patriotisme tidak hanya diwujudkan melalui kecintaan kepada tanah air, tetapi juga melalui tanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai aparatur pengawas pemilu saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di lingkungan Bawaslu Kota Batam, Rabu (28/10/2026).

Batam - Semangat Sumpah Pemuda tidak cukup dikenang melalui upacara dan pengibaran bendera. Nilai persatuan harus hadir dalam tindakan sehari-hari, termasuk melalui integritas, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan. Pesan tersebut disampaikan Ketua Bawaslu Kota Batam, Antonius Itoloha Gaho, saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di lingkungan Bawaslu Kota Batam, Rabu (28/10/2026).

Dalam amanatnya, Antonius mengajak seluruh jajaran Bawaslu Kota Batam memaknai semangat Sumpah Pemuda sesuai tantangan zaman. Ia menekankan bahwa patriotisme tidak hanya diwujudkan melalui kecintaan kepada tanah air, tetapi juga melalui tanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai aparatur pengawas pemilu.

Menurutnya, nilai patriotisme perlu tercermin dalam kedisiplinan, kepatuhan terhadap peraturan, penjagaan integritas, serta profesionalisme. Bagi jajaran pengawas pemilu, nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi.

“Bagaimana kita membangun jiwa cinta tanah air, terutama dalam pelaksanaan tugas kita sebagai lembaga pengawas pemilihan umum,” demikian pesan Antonius dalam amanatnya.

Ia mengingatkan bahwa tugas pengawasan pemilu bukan sekadar pekerjaan administratif. Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk menjaga proses demokrasi agar berlangsung sesuai ketentuan, sekaligus memastikan masyarakat memiliki ruang untuk berpartisipasi secara sadar dan bertanggung jawab.

Patriotisme diuji melalui integritas

Antonius menyoroti pentingnya menerjemahkan semangat patriotisme ke dalam perilaku nyata. Kecintaan kepada bangsa, menurut pesan yang disampaikannya, perlu diwujudkan melalui kesediaan menjalankan tugas dengan disiplin dan memegang teguh aturan.

Dalam konteks pengawasan pemilu, integritas berarti bekerja berdasarkan ketentuan, menjaga profesionalisme, dan menjalankan kewenangan secara bertanggung jawab. Kepercayaan publik tidak terbentuk hanya melalui pernyataan, melainkan melalui konsistensi antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan.

Nilai berikutnya adalah kegigihan. Antonius mengajak jajaran Bawaslu membangun semangat pantang menyerah, bukan hanya di lingkungan kerja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kegigihan dibutuhkan agar tugas tetap dijalankan dengan sungguh-sungguh meskipun menghadapi tantangan dan keterbatasan.

Dalam kerja kelembagaan, semangat tersebut perlu disertai ketelitian dan kepatuhan terhadap prosedur. Sebab, menjaga demokrasi membutuhkan kerja yang konsisten, bukan tindakan sesaat yang hanya muncul ketika perhatian publik sedang tinggi.

Empati juga berarti menjaga lingkungan

Selain patriotisme dan kegigihan, Antonius menekankan pentingnya empati. Kepedulian, menurutnya, tidak boleh berhenti pada hubungan antarrekan kerja atau sesama manusia. Empati juga perlu diwujudkan melalui perhatian terhadap lingkungan hidup.

Ia menyinggung dampak kabut asap yang dirasakan masyarakat Batam dalam beberapa waktu terakhir, terutama terhadap kesehatan dan kenyamanan beraktivitas. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Antonius mengajak seluruh jajaran memulai kepedulian dari tindakan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dan tidak membiarkan sampah menumpuk di depan rumah atau tempat kerja.

Langkah-langkah kecil itu mungkin tidak langsung menyelesaikan persoalan lingkungan secara menyeluruh. Namun, kebiasaan menjaga kebersihan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menciptakan ruang hidup yang lebih sehat.

Bagi masyarakat, pesan ini relevan karena kualitas lingkungan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah. Perilaku warga dalam mengelola sampah, menjaga kebersihan, dan merawat ruang bersama juga berpengaruh terhadap kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.

Media sosial untuk merawat persatuan

Antonius juga mengingatkan pentingnya empati dalam menyikapi perkembangan media sosial. Di tengah kemudahan berbagi informasi, masyarakat perlu menggunakan ruang digital secara bijak agar tidak memperlebar perbedaan atau memicu perpecahan.

Indonesia memiliki keberagaman suku, bahasa, dan etnis yang menjadi bagian dari identitas bangsa. Keberagaman tersebut perlu dirawat melalui sikap saling menghormati, termasuk ketika masyarakat menghadapi perbedaan pandangan di ruang digital.

Karena itu, penggunaan media sosial perlu disertai tanggung jawab. Memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menghindari ujaran yang merendahkan kelompok lain, dan menyampaikan perbedaan pendapat secara santun merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat.

Pesan tersebut juga penting dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari proses demokratis, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk merusak hubungan sosial. Masyarakat dapat berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat satu sama lain.

Menurut Antonius, menjaga persatuan merupakan tanggung jawab bersama agar bangsa Indonesia tetap kuat menghadapi berbagai tantangan. Semangat pemuda, dalam konteks ini, tidak hanya ditunjukkan melalui keberanian menyampaikan pendapat, tetapi juga melalui kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tersebut turut dihadiri Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Pendidikan dan Pelatihan Bawaslu Kota Batam, Ully Yushariyen Damanik, Kepala Sekretariat Bawaslu Kota Batam, Esther Irianti Lombogia serta jajaran sekretariat Bawaslu Kota Batam.

Melalui peringatan ini, semangat Sumpah Pemuda diharapkan tidak berhenti sebagai ingatan tentang ikrar yang diucapkan pada 1928. Nilainya perlu terus hidup dalam cara bekerja, memperlakukan sesama, menjaga lingkungan, dan menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab.

Penulis, foto dan editor: Budiyanto