Ketua Bawaslu Batam Ajak Jajaran Rawat Kepercayaan Publik melalui Integritas dan Kinerja
|
Batam - Kepercayaan publik terhadap lembaga pengawas pemilu tidak dibangun hanya melalui slogan atau pernyataan, melainkan melalui kerja nyata yang dapat dirasakan masyarakat. Pesan itu ditegaskan Ketua Bawaslu Batam, Antonius Itoloha Gaho, saat menjadi pembina apel pagi di lingkungan Bawaslu Batam, Senin (2/11/2026).
Dalam amanatnya, Antonius mengajak seluruh jajaran, mulai dari komisioner, pegawai negeri sipil (PNS), hingga pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), untuk menjadikan tugas di Bawaslu sebagai bentuk pengabdian yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, keberadaan setiap orang di lembaga tersebut merupakan hasil perjuangan, usaha, dan doa, bukan sesuatu yang datang begitu saja.
Karena itu, rasa syukur atas kesempatan mengabdi harus diwujudkan melalui kinerja terbaik. Ia mengingatkan bahwa pekerjaan di Bawaslu tidak boleh berhenti pada pemenuhan kewajiban administratif. Lebih dari itu, setiap jajaran memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengawas pemilu.
Antonius menyoroti dinamika politik nasional dan berbagai percakapan di media sosial yang menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemilu masih menjadi perhatian. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu dijawab dengan sikap profesional, integritas, dan kesungguhan dalam menjalankan tugas serta kewenangan pengawasan.
Ia mengajak seluruh jajaran untuk memberikan kontribusi terbaik sesuai peran masing-masing. Sebab, kepercayaan publik tidak tumbuh dari apa yang dikatakan lembaga tentang dirinya sendiri, tetapi dari apa yang dilihat dan dialami masyarakat ketika berhadapan dengan lembaga tersebut.
Bagi Bawaslu, menjaga kepercayaan berarti memastikan pengawasan pemilu dilaksanakan secara profesional, bertanggung jawab, dan berintegritas. Hal itu juga berarti memberikan pelayanan informasi yang jelas, merespons laporan masyarakat sesuai prosedur, serta menjalankan kewenangan berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Pesan tersebut penting karena pengawasan pemilu bukan hanya urusan internal lembaga. Masyarakat juga memiliki ruang untuk berpartisipasi dengan ikut mengawasi proses demokrasi, mengenali dugaan pelanggaran, dan menyampaikan laporan melalui kanal resmi Bawaslu. Dengan demikian, demokrasi tidak hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara, tetapi juga membutuhkan kepedulian masyarakat.
Dalam bagian lain amanatnya, Antonius mengajak jajaran merefleksikan perjalanan masing-masing hingga dapat bekerja dan mengabdi di Bawaslu Kota Batam. Ia menyinggung perjuangan pegawai yang mengikuti proses seleksi PPPK maupun PNS, serta para komisioner yang telah melewati berbagai tahapan seleksi sebelum mendapat amanah dari negara.
Baginya, mengingat kembali proses perjuangan tersebut dapat menjadi pengingat agar setiap orang tidak kehilangan semangat dalam menjalankan tanggung jawab. Pengabdian, kata-kata yang kerap terdengar sederhana, sesungguhnya diuji melalui konsistensi: bagaimana seseorang tetap bekerja dengan baik ketika tidak sedang diperhatikan, tetap memegang prinsip ketika menghadapi tekanan, dan tetap bertanggung jawab ketika berhadapan dengan persoalan.
Apel pagi tersebut turut dihadiri Kepala Sekretariat Bawaslu Batam, Esther Irianti Lombogia, bersama jajaran sekretariat dan seluruh peserta apel.
Menutup amanatnya, Antonius mengajak seluruh jajaran untuk menjaga kesehatan, mencintai pekerjaan, dan bersama-sama mengembalikan kepercayaan publik kepada Bawaslu. Sebab, lembaga pengawas pemilu tidak hanya dinilai dari kewenangan yang dimilikinya, tetapi juga dari integritas orang-orang yang menjalankannya.
Pada akhirnya, kepercayaan publik adalah amanah yang harus dirawat setiap hari. Ia tumbuh dari tindakan yang konsisten, bukan dari janji yang berulang. Dan bagi Bawaslu, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan jujur dan profesional merupakan bagian dari upaya menjaga demokrasi tetap berada di jalurnya.
Penulis, foto dan editor: Budiyanto